Ajar

Hevea brasiliensis Sejarah, Morfologi dan Histology

Penulis

Yayuk Purwaningrum 
Yenni Asbur 
Dedi Kusbiantoro 
Syamsafitri 
Dian Hendrawan 
Miranti 
Indra Saputra Kurniawan 
Khairunnisyah Nasution 

Editor
:
Yayuk Purwaningrum
Cover & Tata Letak
:
Ainiel Riany Putri
Jumlah Halaman
:
182 Halaman
ISBN
:
Tanggal Publikasi
:
2026-07-15

Harga

EBook
Rp.
Buku
Rp.
Beli Sekarang
Tanaman karet bukan merupakan tanaman asli Indonesia. Secara geografis dan historis, tanaman ini berasal dari karet liar yang tumbuh alami di kawasan hutan lembah Sungai Amazon, yang saat ini termasuk wilayah Negara Brasil di Amerika Selatan. Tanaman karet yang dibudidayakan secara luas dikenal dengan nama ilmiah Hevea brasiliensis dan tergolong ke dalam famili Euphorbiacea, serta memiliki beragam nama lokal di beberapa daerah seperti rambung, getah, gota, kejai, dan hapea (Setyamidjaja, 2000; Anonimus, 2012). 

Karet memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia modern karena digunakan sebagai bahan baku utama berbagai produk yang mendukung mobilitas manusia dan distribusi barang. Komponen seperti ban kendaraan, sabuk transmisi, alas kaki, serta berbagai peralatan industri memanfaatkan sifat elastis dan daya tahan karet. Di Indonesia, karet merupakan salah satu komoditas pertanian strategis yang telah lama dibudidayakan dan memberikan kontribusi penting terhadap perekonomian nasional, terutama sebagai sumber devisa dan pendapatan petani (Vahnoni, 2014; Direktorat Jenderal Perkebunan, 2020). 

Perkembangan tanaman karet di Indonesia tidak terlepas dari sejarah kolonial Belanda. Pada tahap awal, tanaman karet diperkenalkan melalui penanaman di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman koleksi dan objek penelitian. Selanjutnya, tanaman ini dikembangkan menjadi tanaman perkebunan dan mulai menyebar ke berbagai wilayah. 

Pada tahun 1864, Hofland membuka perkebunan karet di Pamanukan dan Ciasem, Jawa Barat, dengan jenis karet yang pertama kali ditanam adalah karet rambung (Ficus elastica). Sementara itu, jenis Hevea brasiliensis mulai dibudidayakan di Sumatera pada tahun 1902 dan kemudian dikembangkan di Pulau Jawa pada tahun 1906 (Anonimus, 2012; Boerhendhy & Amypalupy, 2016). 
Kategori Buku
:
Ajar
Cetakan
:
Penerbit
:
Tri Selaras Cendekia
Tahun Terbit
:
2026
Kertas
:
UNESCO
Ukuran
:
15.5 x 23 cm
Produk Tags
:
Pertanian

Buku Terkait

Temukan Ilmu dan Inspirasi Baru